"Together We Can"

Pages

Senin, 16 Maret 2015

TEORI DAN STRUKTUR BAKU KURIKULUM: Teori Posisi, Fungsi, Hierarkis serta Struktur Komponen dalam Pengembangan Kurikulum

Tugas Kelompok

TEORI DAN STRUKTUR BAKU KURIKULUM: Teori Posisi, Fungsi, Hierarkis serta Struktur Komponen dalam Pengembangan Kurikulum

Oleh :
Kelompok II

Daulat Krisman Sitohang                 8146121004
Edwin Johannes Sihombing         8146121008
Handriani Milladya       Ginting          8146121016
Mirnawati Meidina Br Barus       8146121026
pasca logo.jpg






PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan anugerah-Nya, penulis diberikan kemudahan dan kelancaran sehingga dapat menyelesaikan makalah Teori dan Struktur Baku Kurikulum: Teori Posisi, Fungsi, Hierarkis serta Stuktur Komponen dalam Pengembangan Kurikulum dari mata kuliah Pengembangan Kurikulum.
 Makalah ini disusun dan dibuat berdasarkan materi-materi yang dipelajari dalam  mata kuliah Pengembangan Kurikulum. Materi-materi yang disajikan bertujuan agar dapat menambah pengetahuan dan  wawasan mahasiswa Teknologi Pendidikan dalam  mendalami ilmu tersebut.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat kepada para pembacanya. Namun demikian, penulis sangat menyadari bahwa dalam  penyajian makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis menerima setiap kritik dan saran dari pembaca dengan harapan kritik atau saran tersebut dapat menyempurnakan makalah-makalah yang akan datang.
.

                                                                                                            Hormat kami,


                                                                                                            Penyusun















DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I  PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah .…………………………………….………………………   1
B.     Perumusan Masalah  ..……………………………………………………………….    2
C.     Tujuan Pembahasan  …………………………………………………………………    2
D.    Manfaat Pembahasan  .………………………………………………………………     2

BAB II  PEMBAHASAN
A.    Ontologi Teknologi Pendidikan  .………………………………….……………......    3
B.  Epistemologi Teknologi Pendidikan ………………………………………………..      4
C.  Aksiologi Teknologi Pendidikan ……..……………………………………………..      5
D.  Hubungan Antar Kawasan Teknologi Pendidikan  ……..…………………………..     6

BAB III  PENUTUP
A.  Kesimpulan  ..……………………………………………………….……………....       10
B.     Saran  ………………………………………………………………………………..     10
















BAB I
PENDAHULUAN
                                           
A.    Latar Belakang Masalah
Dalam melakukan suatu kegiatan pasti akan memerlukan suatu perencanaan dan organisasi yang dilaksanakan secara sistematis dan terstruktur agar dapat mencapai tujuan yang ditentukan atau yang diharapkan. Demikian pula halnya pendidikan, diperlukan adanya program yang terencana dan dapat mengantarkan proses pembelajaran atau pendidikan sampai pada tujuan yang diharapkan. Proses, pelaksanaan, sampai penilaian dalam pendidikan lebih dikenal dengan istilah “kurikulum pendidikan”.
Dalam dunia pendidikan, kurikulum memunyai peranan yang penting karena merupakan operasionalisasi tujuan yang hendak dicapai, bahkan tujuan tidak akan tercapai tanpa melibatkan kurikulum pendidikan. Kurikulum merupakan salah satu komponen pokok dalam pendidikan. Kurikulum sendiri juga merupakan sistem yang mempunyai komponen-komponen tertentu. Kurikulum dapat diartikan sebagai sebuah dokumen perencanaan yang berisi tentang tujuan yang harus dicapai, isi materi dan pengalaman belajar yang harus dilakukan siswa, strategi dan cara yang dapat dikembangkan, evaluasi yang dirancang untuk mengumpulkan informasi tentang pencapaian tujuan, serta implementasi dari dokumen yang dirancang dalam bentuk nyata.
Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam seluruh aspek kegiatan pendidikan. Pendidikan tidak mungkin berjalan dengan baik atau berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan jika pendidikan tidak dijalankan sesuai dengan kurikulum. Sebelum dilaksanakan lurikulum yang dibuat memerlukan perencanaan dan pengembangan agar dapat mencapai kesempurnaan.
Mengingat pentingnya peranan kurikulum di dalam pendidikan dan dalam perkembangan kehidupan manusia, maka dalam pelaksanaan kurikulum tidak bisa dilakukan tanpa memahami bagaimana pengembangan kurikulum itu sendiri. Oleh karena itu, pihak-pihak terkait dengan kurikulum harus mengetahui teori posisi, fungsi, hierarkis dastruktur komponen dalam pengembangan kurikulum.






B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas maka dapat diambil rumusan masalah yaitu sebagai berikut:
1.      Bagaimanakah teori posisi dalam pengembangan kurikulum?
2.      Bagaimanakah fungsi dalam pengembangan kurikulum?
3.      Bagaimanakah hierarkis dalam pengembangan kurikulum ?
4.      Bagaimana struktur komponen dalam pengembangan kurikulum?

C.     Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
1.      Mengetahui teori posisi dalam pengembangan kurikulum.
2.      Mengetahui fungsi dalam pengembangan kurikulum.
3.      Memahami hierarkis dalam pengembangan kurikulum .
4.      Memahami struktur komponen dalam pengembangan kurikulum.

D.    Manfaat Pembahasan
Adapun manfaat yang dapat dicapai dari hasil pembahasan materi ini antara lain:
1.      Memberi informasi kepada pengajar bagaimana pengembangan kurikulum.
2.      Menambah wawasan pengetahuan mengenai studi Pengembangan Kurikulum sehingga dapat diterapkan dalam pelaksanaan pembelajaran.














BAB II
PEMBAHASAN

A.    Kurikulum
Istilah “kurikulum” memiliki berbagai tafsiran yang dirumuskan oleh pakar-pakar dalam bidang pengembangan kurikulum sejak dulu sampai dengan dewasa ini. Tafsiran-tafsiran tersebut berbeda-beda satu dengan lainnya, sesuai dengan titik berat inti dan pandangan dari pakar bersangkutan.
Istilah kurikulum berasal dari bahasa latin, yakni “Curriculae” artinya jarak yang harus ditempuh seseorang pelari. Pada waktu itu, pengertian kurikulum ialah jangka waktu pendidikan yang harus ditempuh oleh siswa yang bertujuan untuk memperoleh ijazah. Dalam hal ini, ijazah pada hakikatnya merupakan suatu bukti, bahwa siswa telah menempuh kurikulum yang berupa rencana pelajaran, sebagaimana halnya seorang pelari telah menempuh suatu jarak antara satu tempat ke tempat lainnya dan akhirnya mencapai finish. Dengan kata lain, suatu kurikulum dianggap sebagai jembatan yang sangat penting untuk mencapai titik akhir dari suatu perjalanan dan ditandai oleh perolehan suatu ijazah tertentu.
Tafsiran lainnya menyatakan, “Kurikulum memuat isi dan materi pelajaran” Kurikulum ialah sejumlah mata ajaran yang harus ditempuh dan dipelajari oleh siswa untuk memperoleh sejumlah pengetahuan. Mata ajaran (subject matter) dipandang sebagai pengalaman orang tua atau orang-orang pandai masa lampau, yang telah disusun secara sistematis dan logis. Misalnya, bakat pengalaman dan penemuan-penemuan masa lampau, maka diadakan pemilihan dan selanjutnya disusun secara sistematis, artinya menurut urutan tertentu, dan logis, artinya dapat diterima oleh akal dan pikiran. Mata ajaran tersebut mengisi materi pelajaran yang disampaikan kepada siswa, sehingga memperoleh sejumlah ilmu pengetahuan yang berguna baginya. Semakin banyak pengalaman dan penemuan-penemuan maka semakin banyak pula mata ajaramn yang harus disusun dalam kurikulum dan harus dipelajari oleh siswa di sekolah (Hamalik, 2008:16-17).
Ditinjau dari asal katanya, kurikulum berasal dari bahasa yunani yang mula-mula digunakan dalam bidang olah raga, yaitu kata currure yang berarti jarak tempuh lari. Dalam kegiatan berlari tentu saja ada jarak yang harus ditempuh mulai dari start  sampai dengan finish. Jarak dari start sampai dengan finish disebut currure.  Atas dasar tersebut pengertian kurikulum diterapkan dalam bidang pendidikan.
Banyak ahli pendidikan dan ahli kurikulum yang membatasi pengertian kurikulum beberapa definisi tersebut dirumuskan dengan berbeda meskipun pada initinya terkandung maksud yang sama.
Sebagai gambaran ada beberapa pengertian kurukulum yang dikembangkan oleh beberapa orang ahli, antara lain:
1.      Hilda, Taba dalam bukunya, Curriculum Development, Theory and Practice (1962), mendefinisikan kurikulum sebagai a plan for learning.  
2.      J.F Kerr (1966) mendefinisikan kurikulum sebagai : “ All the learning which is planned or guided by the school, whether it is carried on in groups or individually, inside of or outside the school”.
3.      Rene Ochs (1964) yang dikutipoleh Ariech Lewy (1970) sebagai berikut: “This term often to design aqually a programme for a given subject matter for the entire cycle or even the whole range of cycles. Further, the term curriculum is somestimes used in a wider sense to cover the various educational activities through which the content is conveyed as well as materials used and methods employed.”
Dari ketiga definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa kurikulum merupakan aktivitas dan kegiatan belajar yang direncanakan, diprogramkan bagi peserta didik di bawah bimbingan sekolah, baik di dalam maupun luar sekolah. Atas dasar tersebut secara oprasional kurikulum dapat didefinisikan sebagai berikut.
1.      Suatu bahan tertulis yang berisi uraian tentang program pendidikan suatu sekolah yang dilaksanakan dari tahun ke tahun;
2.      Bahan tertulis yang dimaksudkan untuk digunakan guru dalam melaksanakan pengajaran untuk siswa-siswanya;
3.      Suatu usaha untuk menyampaikan asas dan ciri terpenting dari suatu rencana pendidikan dalam bentuk sedemikian rupa sehingga dapat dilaksanakan guru di sekolah;
4.      Tujuan-tujuan pengajaran, pengalaman belajar, alat-alat belajar dan cara-cara penilaian yang direncanakan dan digunakan dalam pendidikan; dan
5.      Suatu program bpendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Definisi tersebut dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu kurikulum sebagai program yang direncanakan dan dilaksanakan di sekolah serta kurikulum sebagai program yang direncanakan dan dilaksanakan secara nyata di kelas.
Ada pakar kurikulum yang mengutarakan bahwa “kurikulum mencakupi maksud, tujuan, isi, proses, sumber daya, dan sarana-sarana evaluasi bagi semua pengalaman belajar yang direncanakan bagi para pembelajar baik di dalam maupun di luar sekolah dan masyarakat melalui pengajaran kelas dan program-program terkait”, dan selanjutnya membatasi “silabus sebagai suatu pernyataan mengenai rencana bagi setiap bagian kurikulum mengesampingkan unsur evaluasi kurikulum itu sendiri, …silabus hendaknya dipandang dalam konteks proses pengembangan kurikulum yang sedang berlangsung.” (Robertson 1971: 584; Shaw 1977 dalam Tarigan, 1993:5).
Selain itu, masih terdapat bermacam-macam pengertian diberikan kepada istilah kurikulum. Perkataan kurikulum bukan perkataan Indonesia asli, tetapi berasal dari bahasa asing, yaitu bahasa Yunani. Di dalam kamus Webster dalam Team Pembina Mata Kuliah Didaktik Metoadik (1995:97) terdapat beberapa arti dari kurikulum, di antaranya yaitu sebagai berikut.
1.      Tempat berlomba, jarak yang harus ditempuh  pelari kereta lomba.
2.      Pelajaram-pelajaran tertentu yang diberikan di sekolah atau perguruan tinggi yang ditujukan untuk mencapai suatu tingkat atau ijazah.
3.      Keseluruhan pelajaran yang diberikan dalam suatu lembaga pendidikan.
Lazimnya, kurikulum dipandang sebagai suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar-mengajar di bawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan berserta staf pengajarnya (Nasution, 2006:5). Pengertian kurikulum yang lebih luas kemudian diberikan oleh para pendidikan yaitu “segala usaha sekolah untuk memengaruhi anak belajar, di dalam kelas, di halaman sekolah maupun di luarnya” atau “segala kegiatan di bawah tanggung jawab sekolah yang memengaruhi anak dalam pendidikannya” (Team Pembina Mata Kuliah Didaktik Metodik, 1995:97).
Karakteristik lain dari kurikulum yaitu sebagai berikut:
a.       Kurikulum harus bersifat fleksibel, mudah diubah menuju ke kesempurnaan, sesuai dengan kubutuhan dan kemajuan ilmu pengetahuan.
b.      Kurikulum adalah deskripsi atau uraian tentang rencana atau program yang akan dilaksanakan.
c.       Kurikulum biasanya berisi tentang bermacam-macam bidang studi (areas of learning).
d.      Kurikulum dapat diperuntukkan bagi seorang pelajar saja atau disusun bagi suatu kelompok yang besar.
e.       Kurikulum selalu berhubungan dengan atau merupakan program dari suatu lembaga pendidikan (educational centre).
(Team Pembina Mata Kuliah Didaktik Metodik, 1995:100).

B.     Teori Posisi Kurikulum
Miller & Seller (1985) mengemukakan bahwa suatu kurikulum tetap berada di salah-satu da          ri tiga posisi, yaitu posisi transmisi (transmission), transaksi (transaction), transformasi (transformation). Ketiga posisi ini mempunyai ciri-ciri tersendiri, sesuai dengan alur paradigmanya.
1.      Posisi transmisi
Posisi transmisi berorientasi pada paradigma atomistik, yang berakar pada logika positivisme, dan teori behavioral psychology. Dalam posisi ini pendidikan berfungsi untuk memindahkan fakta-fakta, keterampilan-keterampilan, dan nilai-nilai. Secara khusus, transmisi berorientasi pada penguasaan (mastery) subjek-subjek sekolah melalui metode pengajaran tradisional seperti mempelajari buku pelajaran khusus, memahirkan keterampilan dasar, dan nilai-nilai budaya dan lebih dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat. Perilaku manusia dipandang secara mekanistik, keterampilan-keterampilan pelajar dikembangkan melalui strategi pembelajaran khusus (orientasi belajar berdasarkan kompetensi), yang mengutamakan cara-cara penyampaikan keterampilan-keterampilan, pengetahuan, dan nilai-nilai yang jelas pada pelajar. Hasil belajar harus ditunjukkan dalam bentuk perilaku atau unjuk kerja. Dengan demikian tujuan kurikulum dan pengajaran dirumuskan untuk batas kemampuan minimal yang harus dikuasai atau dicapai oleh subjek didik.Rumusan tujuan itu harus dalam bentuk unjuk kerja yang terukur dan teramati.
Posisi transmisi dalam pelaksanaan pendidikan saat ini tercermin dalam tiga orientasi khusus yaitu penguasaan materi (bahan ajar), berdasarkan kompetensi, dan transformasi budaya. Posisi ini berpusat pada orientasi subjek dan memberikan tekanan pada penguasaan pelajar atas isi subjek. Kondisi ini, mencerminkan bahwa penguasaan bahan ajar, belajar tuntas, pendidikan berdasarkan kompetensi, merupakan ciri utama dalam posisi transmisi. Fokus pembahasan orientasi ini mengacu pada pemilahan subjek ke dalam satuan-satuan kecil, sehingga pelajar dapat menguasai keterampilan-keterampilan dan isi khusus. Dengan demikian, dalam konteks pendidikan kurikulum dipilah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan menggambarkan paradigma atomistik.
Tahapan dalam posisi transmisi kurikulum adalah :
a.      Tujuan
Ciri utama tujuan dalam posisi transmisi mengarah pada :
1.      Penyiapan peran peserta didik di masyarakat.
2.      Pencapaian tujuan dilakukan dengan memberikan tekanan pada kemampuan-kemampuan dasar dan keterampilan berhitung dan menggabungkannya dengan nilai-nilai yang diyakini oleh masyarakat umum.
3.      Lulusan harus kompeten dalam keterampilan dasar dan dipersiapkan untuk menegakkan nilai-nilai dan tradisi-tradisi yang menjadi pusat perhatian masyarakat.

b.      Pemilihan Isi
Secara umum penentuan isi dalam posisi transmisi memperhatikan butir-butir berikut:
1.      Isi harus dimasukkan ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil, menjadi komponen-komponen yang dapat ditata.
2.      Kurikulum harus mempunyai isi yang berpusat pada materi-materi (bahan ajar) utama atau inti di dalam wilayah kajian tertentu.
3.      Isi harus dapat diorganisasikan berdasarkan alur pikir logis.

c.       Pemilihan Model Mengajar
Kriteria pemilihan model mengajar dalam posisi transmisi mencakup.
1.      Model mengajar harus memuat komponen pengetahuan yang jelas, tujuan-tujuan yang ringkas.
2.      Model harus disusun agar guru mampu menyediakan arah khusus dalam mempelajari isi dan keterampilan.
3.      Model harus bergerak maju untuk menilai tujuan-tujuan instruksional.

d.      Pengorganisasian Bahan Ajar
-          Ruang lingkup
Ruang lingkup pengorganisasi bahan ajar dalam posisi transmisi berkisar pada materi pelajaran, disiplin ilmu, atau lapangan pengetahuan yang lebih luas.Permasalahan utama dalam pengorganisasian bahan ajar dan disiplin ilmu ini adalah pemilahan atau pemenggalan-pemenggalan materi pelajaran di kelas.Salah satu upaya untuk merespon permaslahan ini dengan merencanakan suatu lapangan yang cukup luas, dengan menggabungkan sejumlah materi pelajaran ke dalam suatu wilayah kajian yang cukup luas.
-          Urut-urutan
Secara umum, dalam silabus transmisi urut-urutan materi pelajaran di tata dalam hierarkhi yang tetap, sering bergerak dari yang sederhana ke konsep yang lebih kompleks. Tipe ini sering digunakan untuk mengorganisasi prinsip-prinsip dalam MIPA.Dalam kajian sosial, sejarah misalnya, selalu mengurutkannya dari waktu lampau ke waktu dan kondisi sekarang.

2.      POSISI TRANSAKSI
Dalam posisi transaksi, individu dipandang sebagai sosok yang rasional dan mampu memecahkan masalah secara cerdas. Pendidikan dipandang sebagai dialog antara siswa dan kurikulum dimana siswa merekonstruksi pengetahuan-pengetahuannya melalui proses dialog. Elemen sentral dalam posisi transaksi adalah penekanan pada strategi kurikulum yang memfasilitasi pemecahan masalah, aplikasi keterampilan pemecahan masalah dalam konteks social, dan perkembangan keterampilan kognitif dalam disiplin akademis.
Paradigm filosofis posisi transaksi adalah metode ilmiah.Sedangkan akar filosofisnya adalah pragmatismenya John Dewey.Posisi transaski ini juga memiliki akar psikologis dalam teori-teori perkembangan kognitif Piaget dan Kohlberg.

3.      POSISI TRANSFORMASI
Metaorientasi transformasi berfokus pada perubahan personal dan social. Posisi ini meliputi 3 orientasi spesifik yaitu keterampilan mengajar untuk mempromosikan transformasi personal dan sosial, visi perubahan social sebagai pergerakan menuju harmoni dengan lingkungan, dan  atribusi dimensi spiritual terhadap lingkungan dimana sistem ekologis dihormati.
Paradigma posisi transformasi adalah konsepsi saling ketergantungan secara ekologis yang menekankan pada fenomena yang saling berhubungan.Siswa dan kurikulum dipandang sebagai sesuatu yang saling mempenetrasi dalam perilaku holistik.
Akar filosofis posisi trasnformasi adalah transendentalisme, mistisime dan sejumlah bentuk eksistensialisme. Posisi ini merepresentasikan filosofi perennial yang menganggap bahwa semua fenomena merupakan bagian dari keseluruha yang saling berhubungan. Akar psikologis dari posisi trasnformasi adalah psikologi humanistis dan transpersonal yang menekankan pada pemenuhan ego dan level spiritual.

ORIENTASI TRANSMISSION, TRANSACTION, DAN TRANFORMATION

Transmisi
Transaksi
Transformasi
Pengertian
Menstransmisikan fakta, skil dan nilai bangsa
Proses merekonstruk pengetahuan baru melalui proses dialog
Memfokuskan pada perubahan individu dan sosial
Paradigma Sain
Atomistik
Metode Ilmiah (induktif)
Romantic element, Social change orientation
Sosial
Pilosopi dan Nilai-nilai tradisional
-
Small is beautiful
C.    Fungsi dalam Pengembangan Kurikulum
Pendidikan merupakan persoalan penting bagi semua insan, yang selalu menjadi tumpuan dan harapan untuk mengembangkan individu dan masyarakat. Pendidikan juga sebagai alat untuk memajukan peradaban, mengembangkan masyarakat, dan mencetak generasi yang mampu melangkah sesuai dengan apa yang menjadi harapan bangsa. Maka di dalam pendidikan diterapkan kurikulum yang berfungsi untuk mencapai tujuan tujuan yang diharapkan. Sebelum kita bicara mengenai fungsi kurikulum, terlebih dahulu akan dijelaskan apa yang dimaksud dengan fungsi. Kata fungsi berasal dari bahasa inggris “function” yang mempunyai banyak arti, diantaranya yang berarti jabatan, kedudukan, kegiatan dan sebagainya.
Kurikulum merupakan salah satu asas penting dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, apabila asas ini baik dan kuat, maka dapat dipastikan proses belajar mengajarpun akan semakin lancar sehingga tujuan pendidikanpun akan tercapai. Dalam aktifitastas belajar mengajar, kedudukan kurikulum sangat krusial karena dengan kurikulum anak didik akan memperoleh manfaat (benefit). Namun demikian, disamping kurikulum bermanfaat bagi anak didik, ia juga mempunyai fungsi fungsi lain yakni:
1.  Fungsi Kurikulum dalam Rangka Pencapaian Tujuan Pendidikan
Kurikulum pada suatu sekolah merupakan suatu alat atau usaha mencapai tujuan tujuan pendidikan yang diinginkan sekolah tertentu yang dianggap cukup tepat dan krusial untuk dicapai, sehingga salah satu langkah yang perlu dilakukan adalah meninjau kembali tujuan yang selama ini digunakan sekolah yang bersangkutan (Soetopo & Soemanto, 1993:17). Maksudnya, bila tujuan tujuan yang diinginkan belum tercapai, orang akan cenderung meninjau kembali alat yang digunakan untuk mencapai tujuan itu, misalnya dengan meninjau kurikulumnya. Pendidikan tertinggi sampai pendidikan terendah mempunyai tujuan, yaitu tujuan yang akan dicapai setelah berakhirnya aktifitas belajar.
Di Indonesia ada 4 tujuan pendidikan utama yang secara hirarkis dapat ditemukan, yaitu:
a.    Tujuan Nasional
b.   Tujuan Institusional
c.    Tujuan Kurikuler
d.   Tujuan Instruksional
Dalam pencapaian tujuan pendidikan yang dicita citakan, tujuan tujuan tersebut meski dicapai secara bertingkat yang saling mendukung, sedangkan keberadaan kurikulum disini adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan (pendidikan).

2.      Fungsi Kurikulum Bagi Anak Didik
Keberadaan kurikulum sebagai organisasi belajar  tersusun merupakan suatu persiapan bagi anak didik. Anak didik diharapkan mendapatkan sejumlah pengalaman baru yanmg dikemudian hari dapat dikembangkan seirama dengan perkembangan anak, agar dapat memenuhi bekal hidupnya nanti.
Kalau kita kaitkan dengan pendidikan islam, pendidikan mestinya diorientasikan kepada kepentingan peserta didik, dan perlu diberi bekal  pengetahuan untuk hidup pada zamannya kelak.

3.      Fungsi Kurikulum Bagi Pendidik
Sesuai dengan fungsinya bahwa kurikulum adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendididkan, maka guru semestinya mencermati tujuan pendidkan yang akan dicapai oleh lembaga pendidikan dimana ia bekerja. Guru merupakan pendidik profesional, yang secara implisit telah merelakan dirinya untuk memikul sebagai tanggung jawab pendidikan yang ada dipundak orang tua. Tatkala menyerahkan anaknya ke sekolah, berarti orang tua sudah melimpahkan sebagian tanggung jawab pedidikan anaknya kepada guru / pendidik, tentunya orang tua berharap agar anaknya menemukan guru yang baik, kompeten, dan berkualitas (Ramayulis, 1996:39).
Adapun fungsi kurikulum bagi guru atau pendidik adalah:
a.       Pedoman kerja dalam menyusun dan mengorganisasi pengalaman belajar para anak didik.
b.      Pedoman dalam mengadakan evaluasi terhadap perkembangan anak didik dalam rangka menyerap sejumlah pengalaman yang telah diberikan.
c.       Langeveld mengajukan lima komponen yang berinteraksi secara aktif dalam proses pendidikan yaitu:
-           Komposisi tujuan pendidikan, sebagai landasan ideal pendidikan dan yang dicapai melalui proses pendidikan tersebut.
-           Komponen Terdidik, sebagai masukan manusiawi yang diperluka sebagai subjek aktif dan dikenai proses pendidikan tersebut.
-          Komponen alat pendidikan, sebagi unsur sarana atau objek yang dikenakan kepada terdidik dalam proses pendidikan.
-          Komponen pendidik, merupakan unsur manusiawi yang membantu mengenalkan alat pendidikan kepada anak didik dan mengarahkan proses pendidikan menuju sasaran yang diharapkan sebagaimana tercantum dalam tujuan pendidikan.
-          Komponen lingkungan pendidikan, sebagi unsur suasana yang membantu dan memberikan udara segar dalam proses pendidikan (Supeno, 1995:42-43).

4.      Fungsi Kurikulum Bagi Kepala Sekolah atau Pembina Sekolah
Bagi kepala sekolah yang baru, yang dipelajari pertama kali adalah tujuan lembaga yang akan dipimpinnya. Kemudian mencari kurikulum yang berlaku sekarang untuk dipelajari, terutama pada buku petunjuk pelaksanaan. Kepala sekolah merupakan administrator dan supervisor yang memupunyai tanggung jawab terhadap kurikulum. Fungsi kurikulum bagi kepala sekolah dan para pembina lainnya adalah:
a.       Sebagai pedoman dalam mengadakan fungsi supervisi, yaitu memperbaiki situasi belajar.
b.      Sebagai pedoman dalam melaksanakan fungsi supervisi dalam menciptakan situasi untuk menunjang situasi belajar anak kearah yang lebih baik.
c.       Sebagai pedoman dalam melaksanakan supervisi dalam memberikan bantuan kepada guru atau pendidik agar dapat memperbaiki situasi belajar.
d.      Sebagai seorang administrator, menjadikan kurikulum sebagai pedoman untuk pengembangan kurikulum pada masa mendatang.
e.       Sebagai pedoman unruk mengadakan evaluasi atas kemajuan belajar mengajar (Soetopo dan Soemanto, 1993:19)

5.      Fungsi Kurikulum Bagi Orang Tua
Bagi orang tua, kurikulum difungsikan sebagai bentuk adanya partisipasi orang tua dalam membantu usaha sekolah dalam memajukan putra putrinya. Bantuan yang dimaksud  dapat berupa konsultasi langsung dengan sekolah/ guru  mengenai masalah masalah menyangkut anak anak mereka. Bantuan berupa materi dari orang tua anak dapat melalui lembaga BP-3. Dengan membaca dan memahami kurikulum sekolah, para orang tua dapat mengetahui pengalaman belajar yang diperlukan anak anak mereka, sehingga partisipasi orang tua inipun tidak kalh pentingnya dalam menyukseskan proses belajar mengajar disekolah

6.      Fungsi Kurikulum bagi Sekolah tingkat Diatasnya
Fungsi kurikulum dalam hal ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
a.    Pemeliharaan keseimbangan proses pendidikan
Pemahaman kurikulum yang digunakan oleh suatu sekolah pada tingkat diatasnya dapay melakukan penyesuaian di dalam kurikulumnya, yakni:
-          Jika sebagian kurikulum disekolah bersangkutan telah diajarkan pada sekolah yang beradad dibawahnya, sekolah dapat meninjau kembali perlu atau tidaknya bagian tersebut diajarkan.
-          Jika keterampilan keterampilan tertentu yang diperlkan dalam mempelajari kurikulum suatu sekolah belum diajarkan pada sekolah yang berada dibawahnya, sekolah dapat mempertimbangkan masuknya program tentang keterampilan keterampilan ini kedalam kurikulumnya.
b.   Penyiapan tenaga baru
Jika suatu sekolah berfungsi menyiapkan tenaga pendidik bagi  sekolah yang berada dibawahnya, perlu sekali sekolah tersebut memahami kurikulum sekolah yang berada dibawahnya itu. Pengetahuan tentang kurikulum yang berada dibawahnya berkaitan dengan pengetahuan tentang isi, organisasi, atau susunan serta cara pengajarannya. Dengan harapan, hal itu akan membantu sekolah dan pendidik dalam melakukan revisi revisi dan penyesuaian kurikulum.

7.      Fungsi bagi Masyarakat dan Pemakai Lulusan
Kurikulum adalah alat produsen dari sekolah, sedangkan masyarakat adalah konsumennya. Sudah barang tentu antara produsen dan konsumen harus ada sinkron. Kurikulum sekolah outputnya harus dapat link and match dengan kebutuhan masyarakat. Kurikulum suatu sekolah juga berfungsi bagi masyarakat dan pihak pemakai lulusan sekolah yang berangkutan. Dengan mengetahui kurikulum suatu sekolah, masyarakat, sebagai pemakai lulusan, dapat melaksanakan sekurang kurangnya dua macam berikut:
a.       Ikut memberikan kontribusi dalam memperlancar pelaksanaan program pendidikan yang membutuhkan kerja sama dengan pihak orangtua dan masyarakat.
b.      Ikut memberikan kritik dan saran yang konstruktif demi menyempurnakan program pendidikan di sekolah, agar  lebih serasi degan kebutuhan masyarakat dan lapangan kerja.

D.    Hierarki Pengembangan Kurikulum

E.     Struktur Komponen dalam Pengembangan Kurikulum
Kurikulum dapat mencakup lingkup yang luas yaitu sebagai program pembelajaran pada suatu jenjang pendidikan, namun demikian dapat pula mencakup lingkup yang lebih sempit yaitu sebagai program pembelajaran suatu mata pelajaran untuk beberapa jam pembelajaran. Dalam lingkup yang luas maupun kecil, kurikulum didesain dengan pola organisasi dari komponen-komponen kurikulum dengan perlengkapan penunjangnya. Komponen-komponen kurikulum mencakup  tujuan, isi atau materi, proses atau sistem pembelajaran, media atau sumber serta evaluasi. Komponen-komponen kurikulum tersebut berkaitan erat satu sama lain. Berikut dijelaskan masing-masing komponen kurikulum.
2.      Tujuan
Tujuan perlu dirumuskan dalam kurikulum sebab tujuan akan mengarahkan komponen-komponen yang lain. Sumber dari tujuan adalah empiris, filosofis, mata pelajaran, konsep kurikulum, analisis situasional dan kebutuhan pendidikan. Tujuan kurikulum dirumuskan berdasarkan dua hal. Pertama, perkembangan tuntutan, kebutuhan dan kondisi masyarakat. Kedua, didasari oleh pemikiran-pemikiran dan terarah pada pencapaian nilai-nilai filosofis, terutama falsafah negara. Dikenal beberapa kategori tujuan pendidikan yaitu, pendidikan umum, khusus, jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.
Dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah 1975/1976, dikenal kategori tujuan sebagai berikut:
a.    Tujuan pendidikan nasional (tujuan jangka panjang) tujuan ideal pendidikan bangsa Indonesia
b.   Tujuan institusional, merupakan sasaran pendidikan suatu lembaga pendidikan
c.    Tujuan kurikuler, merupakan tujuan yang ingin dicapai suatu program studi
d.   Tujuan instruksional merupakan target yang ingin dicapai oleh suatu mata pelajaran
e.    Tujuan instruksional umum dan khusus merupakan target yang ingin dicapai suatu mata pelajaran. Perbedaan antara tujuan instruksional umum dan khusus adalah tujuan. Tujuan pembelajaran umum lebih bersifat abstrak, pencapaian-nya memerlukan waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan pencapaian tujuan pembelajaran khusus. Dalam pembelajaran di kelas, tujuan pembelajaran khusus yang diutamakan karena lebih jelas dan mudah pencapaiannya.

3.      Isi atau Konten
Konten atau isi kurikulum merupakan susunan bahan kajian dan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang meliputi bahan kajian dan mata pelajaran. Bahan ajar tersusun atas topik-topik dan sub-sub topik tertentu. Tiap topik atau sub topik mengandung ide-ide pokok yang relevan dengan tujuan yang telah ditetapkan dan tersusun dalam rangkaian dan keterkaitan antar konten (sekuen) yang membentuk suatu rangkaian konten kurikulum. Untuk dapat merangkai dan mengaitkan konten (sekuen) kurikulum membutuhkan keahlian dan pengalaman tersendiri.
Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan dalam pemilihan isi kurikulum. Kriteria-kriteria tersebut adalah:
a.       Signifikasi, yaitu konten sebaiknya penting bagi suatu disiplin atau tema studi,
b.      Validitas yaitu konten sebaiknya otentik dan akurat,
c.       Relevansi sosial, yaitu konten sebaiknya sesuai dengan nilai moral, cita-cita, permasalahan sosial, isu kontroversial, dan sebagainya untuk membantu siswa menjadi anggota masyarakat,
d.      Kegunaan, yaitu konten sebaiknya berguna untuk mempersiapkan siswa menuju kehidupan dewasa,
e.       Kemampuan, yaitu konten sebaiknya sesuai dengan tingkat kemampuan siswa,
f.        minat, yaitu konten sebaiknya berkaitan dengan minat siswa.

4.      Strategi Pembelajaran
Pemilihan strategi pembelajaran sebaiknya memperhatian tujuan dan sekuen konten kurikulum.

5.      Media atau Sumber
            Komponen yang minimal ada dalam kurikulum selain  tujuan dan konten adalah media dan sumber. Media dan sumber dipilih untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

6.      Evaluasi
Evaluasi ditujukan untuk menilai pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan serta menilai pelaksanaan pembelajaran secara keseluruhan. Evaluasi dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan serta bersifat terbuka. Komponen evaluasi adalah komponen kurikulum yang berfungsi untuk mengukur berhasil atau tidaknya pelaksanaan kurikulum. Memfungsikan evaluasi berarti melakukan seleksi terhadap siapa yang berhak untuk diluluskan dan siapa yang belum berhak diluluskan. Mengingat bahwa kegiatan pembelajaran adalah kegiatan yang sudah didesain dan dilaksanakan untuk mencapai target tertentu, maka evaluasi harus didasarkan atas pencapaian target kurikulum.









BAB III
PENUTUP

1.      Kesimpulan
Simpulan dari makalah ini yaitu sebagai berikut.
1.      Kurikulum adalah aktivitas dan kegiatan belajar yang direncanakan, diprogramkan bagi peserta didik di bawah bimbingan sekolah, baik di dalam maupun luar sekolah.
2.      Tujuan adalah komponen kurikulum yang sering dianggap komponen pertama dalam menyusun kurikulum karena tujuan akan mengarah penyusunan komponen-komponen kurikulum lainnya. Untuk memahami asal mula atau bagaimana tersusunnya tujuan kurikulum dari suatu sekolah (lembaga pendidikan) perlu diketahui tentang sumber-sumber yang membantu. Sumber-sumber tersebut adalah berupa dasar-dasar kurikulum yakni filsafat dan tujuan pendidikan, psikologi belajar, faktor anak dan masyarakat. Misalnya kita akan menuliskan tujuan kurikulum Sekolah Menengah Pertama di Indonesia, maka tujuan tersebut harus sesuai sejalan dan sesumber pada tujuan umum pendidikan di Indonesia.
3.      Kurikulum memunyai empat komponen yaitu (1) tujuan (obyektive), (2) pengalaman-pengalaman belajar (learning experiences), (3) organisasi dari pengalaman belajar (organization of learning experiences), dan (4) penilaian hasil belajar (evaluation of student progress).















DAFTAR PUSTAKA

Hamalik, Oemar. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara.
Nasution, S. 2006. Kurikulum dan Pengajaran. Jakarta : Bumi Aksara.
Subandijah. 1993. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Jakarta : PT Raja Grafindo.
Sukmadinata, Nana Syaodih Sukmadinata. 1997. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Tarigan, Henry Guntur. 1993. Dasar-Dasar Kurikulum Bahasa. Bandung : Angkasa Bandung.
Team Pembina Mata Kuliah Didaktik Metodik. 1995. Pengantar Didaktik Metodik Kurikulum PBM. Jakarta : Grafindo Persada.



0 komentar:

Posting Komentar